Kamis, 24 Juli 2014 13:03 WIB 0 Komentar 919 Dilihat

Penelitian Revitalisasi UPTP Pelatihan Tenaga Kerja

Oleh :
Zantermans RGG., dkk
[kingucok@yahoo.com]

 

I.         PENDAHULUAN

1.1.    Latar belakang

 

Masalah krusial dan sangat provokatif yang dihadapi oleh pasar kerja dunia sampai saat ini adalah masalah pengangguran (United Nations, 2007). Bukan saja jumlah  absolutnya  yang  sangat  besar,  rate-nya  yang  tinggi,  tetapi  juga  karena banyak  diantaranya   adalah  kaum  muda  dan berpendidikan   tinggi. Krusialnya masalah   pengangguran   juga  ditunjukkan   oleh   adanya   kecenderungan   sifat pengangguran  yang persisten  (Layard  and  Calmfors,  2003)1.  Padahal,secara teoritis ada tingka pengangguran yang secara alamiah dianggap akan tetap ada (the natural rate of unempolyment), yakni pada kisaran 4% - 6%.

Berdasarkan data yang terpublikasi dalam Sakernas 2010 (BPS, 2010), pada tahun 2010 jumlah angkatan kerja yang tergolong dalam penganggur terbuka di Indonesia sebanyak 8.319.779 orang atau dengan tingkat pengangguran 7,14%. Sebanyak 4.656.945 orang (55,97%) diantara penganggur ini berada di perkotaan, atau dengan  tingkat  pengangguran  9,37%,  dimana  kebanyakan  (47,31%)  adalah lulusan SMTA, dan bahkan terdapat lulusan PT sebanyak 16,84%.

Gambaran di atas adalah suatu cermin yang dapat digunakan untuk melihat kondisi ketenagakerjaan Indonesia yang memprihatinkan sejak merdeka dari penjajahan.  Banyak sudah kebijakan,  program, dan kegiatan  yang dilakukan  oleh pemerintah untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah dengan mengembangkan program pelatihan keterampilan kerja. Kemenakertrans, berdiri di depan, dan membangun unit-unit kerja pelatihan (Balai Latihan Kerja atau BLK). Dalam perkembangannya, BLK-BLK ini mengalami masa pasang-surut seirama dengan perkembangan  politik pemerintahan.  Sejak berubahnya  sistem pemerintahan  dari sentralisasi  menjadi  desentralisasi  sampai saat  ini,  sebagian  besar  BLK  beralih menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), dan (sementara ini) hanya 13 yang tetap atau kembali berstatus Unit Pelaksana Teknis Pusat (UPTP) serta bernaung di bawah panji Kemenakertrans,  dimana sebagian berstatus setingkat Eselon II, dan sebagian lagi berstatus setingkat Eselon III.

Akan tetapi nampaknya keberadaan lembaga-lembaga pelatihan dan program pelatihan yang dilaksanakan  belum juga mampu berbuat banyak untuk mengatasi problem pengangguran ini. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Ketenagakerjaan  pada tahun 2009 berdasarkan  raw data Sakernas  2008, secara hipotetis  menyimpulkan  bahwa  variabel pelatihan  dan  bekerja  independen,  atau tidak ada hubungan di antara keduanya (Rajagukguk, 2009).

Tidak  mengejutkan,   karena  jauh  sebelumnya   para  ahli,  pengamat   dan beberapa penelitian sudah mengatakan bahwa program-program pelatihan yang dilaksanakan  oleh lembaga-lembaga  pelatihan  pemerintah   belum sesuai dengan kebutuhan  dunia  kerja  (Rajagukguk,  2007).  Ketika  kebutuhan  masyarakat  mulai beralih dari produksi barang kepada produksi jasa, yang berarti dengan peningkatan produktivitas  secara  konstan, pekerjaan  yang ada juga  akan  direorientasi  secara gradual   kepada  produksi   jasa.   Akan   tetapi   pelatihan   Indonesia   bukannya menghasilkan  angkatan  kerja penghasil  jasa,  tetapi malahan  sibuk menghasilkan angkatan kerja “penghasil barang” (ILO, 2005). Dugaan mengenai kemungkinan ini tidak  terlepas  dari  berbagai ketidakoptimalan   unsur-unsur  yang  ada  di  dalam lembaga pelatihan pemerintah, seperti sumberdaya manusia –khususnya Instruktur—(Man), Failitas (Machine), Pembiayaan (Money). Tidak kalah pentingnya juga adalah kemungkinan kurang terbangunnya jejaring Kerjasama (Network) antar sesama lembaga pelatihan, dan antara lembaga pelatihan dengan dunia usaha2.

Oleh karena itu, perlu diteliti mengapa unsur-unsur dalam lembaga pelatihan tersebut belum optimal, dan bagaimana solusi terbaik agar lembaga pelatihan pemerintah dapat menjalankan tupoksinya lebih optimal. Akan tetapi, karena jumlah Lembaga Pelatihan Pemerintah, baik yang berstatus UPTP maupun UPTD sangat banyak, maka untuk kepentingan internal Kemenakertrans yang lebih prioritas, Lembaga Pelatihan yang akan diteliti dibatasi hanya pada Lembaga Pelatihan yang berstatus UPTP (selanjutnya disebut UPTP Pelatihan), baik yang berstatus Eselon II maupun Eselon III.

1.2.    Tujuan

Berdasarkan  rumusan  masalah  tersebut  di  atas,  maka  tujuan  yang  ingin dicapai melalui penelitiasn ini adalah untuk:

  1. Mengetahui mengapa UPTP Pelatihan tidak atau belum dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara optimal.
  2. Mengetahui faktor apa yang paling berpengaruh terhadap optimalisasi UPTP Pelatihan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

1.3.    Metodologi

Penelitian ini dilakukan terhadap lima UPTP Pelatihan, yakni BBLKI Medan, BBPLKDN  Bandung,  BBLKI  Surakarta,  BLKI  Samarinda,  dan  BLKI  Makassar, dengan  menganalisa  kinerja  tiap-tiap  UPTP  Pelatihan  tersebut  pada  Sembilan variable, yakni: (1) Kejuruan; (2) Instruktur; (3) Peralatan; (4) Ruangan; (5) Bahan; (6)  Anggaran;  (7)  Unit  Kerja  Struktural;  (8)  Program;  (9)  Jejaring  Kerjasama Pelatihan
Untuk   menyatakan   perlu   tidaknya   UPTP   Pelatihan   direvitalisasi,   maka langkah  pertama  yang dilakukan  adalah  mengukur  tingkat  vitalitas  UPTP  melalui pendekatan The Graphic Rating Scale dengan teknik Indeks komposit (composite index),   yakni  suatu   metode   analisis   yang  menggunakan   asumsi-asumsi   atas variable-variabel  yang digunakan  sebagai  alat ukur. Asumsi-asumsi  ini akan diuji kebenarannya  dengan  menggunakan  uji  statistic  discriminant  analysis,  sehingga dapat ditentukan meaning (arti) dari tingkat vitalisasi UPTP Pelatihan, dan arti tiap- tiap  variable.  Peringkat  Vitalitas  UPTP  Pelatihan  sampel  ditentukan  lima  Skala, yakni:

VITAL (V)
Bila  akumulasi  nilai  TINGKAT  KESESUAIAN  dari  seluruh  variabel  yang diperoleh UPTP memenuhi jumlah kriteria Vital (189 – 225).

HAMPIR VITAL (HV)
Bila  akumulasi  nilai  TINGKAT  KESESUAIAN  dari  seluruh  variabel  yang diperoleh UPTP hanya memenuhi jumlah kriteria Hampir Vital (153 – 188)

SETENGAH VITAL (SV)
Bila  akumulasi  nilai  TINGKAT  KESESUAIAN  dari  seluruh  variabel  yang diperoleh UPTP hanya memenuhi jumlah kriteria Setengah Vital (117 – 152).

HAMPIR TIDAK VITAL (HTV)
Bila  akumulasi  nilai  TINGKAT  KESESUAIAN  dari  seluruh  variabel  yang diperoleh  UPTP  hanya memenuhi  jumlah  kriteria  Hampir  Tidak  Vital (81 –
116).

TIDAK VITAL (TV)
Bila  akumulasi  nilai  TINGKAT  KESESUAIAN  dari  seluruh  variabel  yang diperoleh UPTP hanya memenuhi jumlah kriteria tidak Vital (45 – 80).

 

II.        HASIL

2.1.    BBLKI Medan

Secara keseluruhan, rata-rata persentase kesesuaian BBLKI Medan pada 9 variabel = 76,50% (Kolom 2), yang berarti tingkat kesesuaian  atau TKBBLKI  Medan = HAMPIR SESUAI (Kolom 3). Dari antara enam variabel yang berhubungan langsung dengan  pelatihan,  variabel  yang  memiliki  persentase  kesesuaian  tertinggi  adalah Bahan (92,60%),  didekati oleh Kejuruan  (89,34%),  sementara  persentase kesesuaian terendah adalah pada variabel Anggaran (50%).

Jumlah nilai komposit dari 9 variabel yang dapat diperoleh BBLKI Medan = 195 (Kolom 4). Ini berarti tingkat vitalitas atau TVBBLKI Medan = VITAL (Kolom 5).

2.2.    BBPLKDN Bandung
Secara  keseluruhan,  rata-rata  persentase  kesesuaian  BBPLKDN  Bandung pada 9 variabel = 72,92% (Kolom 2), yang berarti tingkat kesesuaian atau TKBBPLKDN Bandung = HAMPIR SESUAI (Kolom 3). Dari antara enam variabel yang berhubungan langsung dengan pelatihan, variabel yang memiliki persentase kesesuaian tertinggi adalah   Instruktur   (86,24%),   dan   Peralatan   (82,17%),   sementara   persentase kesesuaian terendah adalah pada variabel Anggaran (50%).

Jumlah  nilai  komposit  dari  9  variabel  yang  dapat  diperoleh  BBPLKDN Bandung = 196 (Kolom 4). Ini berarti tingkat vitalitas atau TVBBPLKDN Bandung = VITAL (Kolom 5).

2.3.    BBLKI Surakarta
Secara keseluruhan, rata-rata persentase kesesuaian BBLKI Surakarta pada 9 variabel = 79,65% (Kolom 2), yang berarti tingkat kesesuaian atau TKBBLKISurakarta = HAMPIR SESUAI (Kolom 3). Dari antara enam variabel yang berhubungan langsung dengan pelatihan, variabel yang memiliki persentase kesesuaian tertinggi adalah Ruangan   (95,83%),   dan   Bahan   (92,03%),   sementara   persentase   kesesuaian terendah adalah pada variabel Anggaran (50%).

Jumlah nilai komposit dari 9 variabel yang dapat diperoleh BBLKI Surakarta = 214 (Kolom 4). Ini berarti tingkat vitalitas atau TVBBLKI Surakarta = VITAL (Kolom 5).

 

2.4.    BLKI Samarinda
Secara keseluruhan, rata-rata persentase kesesuaian BLKI Samarinda pada 9 variabel = 74,33% (Kolom 2), yang berarti tingkat kesesuaian atau TKBLKI Samarinda = HAMPIR SESUAI (Kolom 3). Dari antara enam variabel yang berhubungan langsung dengan pelatihan, variabel yang memiliki persentase kesesuaian tertinggi adalah Ruangan (90,63%), dan Instruktur (80,03%), sementara persentase kesesuaian terendah adalah pada variabel Anggaran (50%).

Jumlah nilai komposit dari 9 variabel yang dapat diperoleh BLKI Samarinda = 193 (Kolom 4). Ini berarti tingkat vitalitas atau TVBLKI Samarinda = VITAL (Kolom 5).

2.5.    BLKI Makassar

Secara keseluruhan, rata-rata persentase kesesuaian BLKI Makassar pada 9 variabel = 72,70% (Kolom 2), yang berarti tingkat kesesuaian atau TKBLKI Makassar = HAMPIR SESUAI (Kolom 3). Dari antara enam variabel yang berhubungan langsung dengan  pelatihan,  variabel  yang  memiliki  persentase  kesesuaian  tertinggi  adalah Bahan   (97,62%),   dan   Ruangan   (81,04%),   sementara   persentase   kesesuaian terendah adalah pada variabel Anggaran (50%).

Jumlah nilai komposit dari 9 variabel yang dapat diperoleh BLKI Makassar = 194 (Kolom 4). Ini berarti tingkat vitalitas atau TVBLKI Makassar = VITAL (Kolom 5).

Dari kondisi tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan untuk mendapat perhatian:

  1. Seluruh UPTP Pelatihan sampel memiliki tingkat kesesuaian (TK) yang sama, yakni TKUPTP  =  HS, dengan rata-rata  tingkat  kesesuaian  pada  9 variabel berkisar antara 72,70% sampai dengan 79,65%. Akan tetapi kondisi tingkat kesesuaian  ini tidak berbanding  lurus dengan  tingkat  vitalitas  (TV),  karena seluruh UPTP Pelatihan sampel memiliki TVUPTP = V, dengan total nilai kesesuaian berkisar antara 193 sampai dengan 214. Dengan demikian, maka sesungguhnya  TVUPTP  tersebut  masih  jauh  dari  sempurna,  karena  berada pada batas bawah V dan batas atas HV.
  2. Cukup  tingginya  TKInstruktur  adalah  karena adanya  penyesuaian  pendidikan formal  setelah  Instruktur  bekerja beberapa  tahun  bahkan  belasan  tahun, bukan pada saat pertama kali direkrut menjadi Instruktur.  Selain itu, sudah banyak Instruktur yang hampir memasuki atau mendekati hampir memasuki usia pensiun.
  3. Cukup  tingginya  TKPeralatan, dan TKBahan   adalah  karena  yang  diukur  hanya jenis peralatan  dan  atau bahan.  Dari  data  yang  diperoleh,  meskipun jenis peralatan dan bahan sudah relatif sesuai antara yang ada dengan yang dibutuhkan,  namun  jumlahmya  masih sangat  belum seimbang  antara yang ada dengan yang dibutuhkan. Selain itu, kondisi fisik peralatan sudah banyak pula yang kurang layak atau hampir kurang layak pakai.
  4. Bahwa  keterbatasan  Anggaran  baik  secara  keseluruhan, ataupun khusus untuk Pelatihan masih dirasakan sebagai salah satu penyebab utama belum optimalnya kinerja UPTP Pelatihan sampel.
  5. Ada kebutuhan yang mendesak untuk membentuk satu Unit Kerja Eselon III(Bidang)  yang  khusus  menangani  Riset,  dan  satu  Eselon  IV pada Bidang Kerjasama yang khusus menangani Promosi dan atau Pemasaran sekaligus sebagai Customer Service.

Komposit Indeks Tingkat Vitalitas UPTP Pelatihan Kerja Sampel Seluruh UPTP Sampel 2012

VARIABEL

% KESESUAIAN

TKT KESESUAIAN

JML NILAI

TKT VITALITAS

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

BBLKI Medan

76,50

HS

195

V

BBPLKDN Bandung

72,92

HS

196

V

BBLKI Surakarta

79,65

HS

214

V

BLKI Samarinda

74,33

HS

193

V

BLKI Makassar

72,70

HS

194

V

Catatan

S

= Sesuai

V

= Vital

HS

= Hampir Sesuai

HV

= Hampir Vital

SS

= Setengah Sesuai

SV

= Setengah Vital

HTS

= Hampir Tidak Sesuai

HTV

= Hampir Tidak Vital

TS

= Tidak Sesuai

TV

= Tidak Vital

III.       PENUTUP

3.1.     Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa, tingkat Vitalitas seluruh UPTP Pelatihan sampel  masih  tergolong  belum  maksimal,  yang  menjadikan  pelaksanaan  tugas pokok dan fungsinya belum optimal Dari 9 variabel yang diukur, variabel yang paling rendah tingkat kesesuaiannya adalah variabel Anggaran, dan yang mendekati relatif rendah  adalah  variabel  Kejuruan.  Sistem  rekrutmen  Calon  Instruktur  belum  atau masih kurang memperhatikan faktor kesesuaian antara kejuruan dengan pendidikan formal. Kondisi Instruktur sudah agak memprihatinkan,  karena banyak yang sudah mendekati usia pensiun, sementara pengkaderan kurang dapat mengimbangi. Unit

Kerja Struktural yang ada belum dapat melaksanakan fungsi market intelligence dan promosi  dengan  baik karena  tidak didukung  dengan  unit kerja yang spesifik  dan profesional.
Tanpa perbaikan vitalitas yang signifikan, UPTP Pelatihan tidak akan dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara optimal.

3.2.     Saran

Berdasarkan   kesimpulan   tersebut   di  atas,  penelitian   ini  menyampaikan beberapa saran, yakni:

  1. Harus  segera  dilakukan  Revitalisasi  terhadap  UPTP  Pelatihan  melalui beberapa kebijakan atau terobosan, antara lain:
    1. Anggaran  bagi  UPTP  Pelatihan  harus  ditngkatkan,  khususnya  untuk Pelatihan, paling tidak 100% dari jumlah rata-rata yang dialokasikan saat ini.
    2. Pola rekrutmen Calon Instruktur harus dirubah dengan berorientasi pada kesesuaian antara kejuruan dengan pendidikan formal.
    3. Kebutuhan  thd  jumlah  Instruktur  pada  tiap  Kejuruan  harus  dievaluasi secara teratur tiap tahun berdasarkan DUK agar dpt diketahui Instruktur yang akan memasuki MPP dan dapat diajukan rekrut Calon Instruktur
  2. Struktur  organisasi  UPTP  Pelatihan  harus  segera  disesuaikan  dengan membentuk Unit Kerja Struktural yang menangani market intelligence, promosi, dan customer service secara khusus dan  profesional.
  3. Harus   segera   dilakukan   penyesuaian   Kejuruan   di   tiap-tiap   UPTP Pelatihan melalui Analisis Kebutuhan Jenis Pelatihan, baik dengan menggunakan data wilayah, maupun Training Needs Assessment.

1 Suatu keadaan dimana tingkat pengangguran venderung terus meningkat, dan kalaupun ada penurunan, tetapi
tidak pernah mencapai angka terendah yang pernah dicapai sebelumnya.”
.

2 Padahal, seperti dikatakan oleh pergerakan ilmu perilaku yang dimotori oleh Maslow, Likert, dan Herzberg,
“keterpadua, dan keterlibatan seluruh stakeholders pelatihan sangat penting”
.

Lihat Berita Yang Lain