Kamis, 24 Juli 2014 13:01 WIB 0 Komentar 504 Dilihat

Pengembangan Model Pelatihan Untuk Peningkatan Kapasitas TKI Purna

Oleh :
Drs. Indro Warsito, MA dkk
[indro_warsito@yahoo.com]

 

A.  LATAR BELAKANG

Terbatasnya kesempatan kerja dibandingkan dengan angkatan kerja menjadikan salah satu alasan untuk para tenaga kerja tersebut bekerja sebagai TKI di   luar   negeri.   Penempatan   tenaga   kerja   Indonesia   ke   luar   negeri   makin berkembang   jumlahnya   dalam   tahun   belakangan   ini.   Sebagian   masyarakat Indonesia memanfaatkan adanya kesempatan kerja di luar negeri dengan menjadi TKI merupakan sebuah pilihan alternatif untuk mengatasi kesulitan bekerja di dalam negeri dan selanjutnya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup keluarganya.

Sebagai   salah   satu   penyumbang   devisa   yang   cukup   besar,   ternyata sebagian besar penghasilan TKI yang dikirim kembali ke Indonesia selain dipakai untuk membayar  hutang yang mereka pergunakan  sebagai biaya keberangkatan mereka  sebagai  TKI  ke  luar  negeri,  juga  dipakai  untuk  hal-hal  yang  bersifat konsumtif  yang tidak produktif.  Hal ini disebabkan  karena  rendahnya  pendidikan dan  atau  pengetahuan  TKI  mengenai  pengelolaan  keuangan,  juga enterpreneurship,   lembaga-lembaga   keuangan,   akses   kepada   jasa   layanan keuangan dan lain-lain.

Kepulangan  TKI  tersebut  dari  luar  negeri  membawa  masalah  tersendiri karena sebagian besar dari mereka tidak bisa memanfaatkan  hasil yang mereka telah  peroleh  di  luar  negeri  untuk  hal  yang  produktif  guna  melanjutkan  hidup mereka di daerahnya masing-masing. Hasil yang diperoleh selama mereka bekerja di luar  negeri  cenderung  mereka  gunakan  untuk  kebutuhan  konsumtif  sehingga timbul keinginan mereka untuk kembali bekerja di luar negeri.

Sebenarnya untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif bagi TKI dan keluarganya berbagai kegiatan yang sifatnya memberdayakan telah dilaksanakan seperti: Pembentukan dan penguatan Asosiasi TKI Purna, bimbingan rehabilitasi  TKI  bermasalah,  temu  wicara  dan  ekspo  TKI  purna,  dan  berbagai kegiatan produktif lainnya.

Permasalahan dari penelitian tersebut meliputi bagaimana pelaksanaan pelatihan-pelatihan,  mapping  pelatihan,  model  pengembangan  pelatihan  kepada TKI purna yang selama ini telah dilakukan oleh unit pelaksana pelatihan di daerah yang dapat meningkatkan kapasitas TKI purna.

B.  MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Untuk menyiapkan TKI purna yang terampil, kompeten  dan berkemampuan  diberbagai  sektor lapangan  usaha sehingga  akan terbentuk tenaga kerja yang produktif yang mampu menciptakan kesempatan kerja di daerahnya.
  2. Untuk mengetahui pelaksanaan pelatihan-pelatihan  TKI Purna yang selama ini telah dilakukan oleh unit-unit pelaksana pelatihan di daerah.
  3. Mapping pelaksanaan  pelatihan-pelatihan  TKI purna yang selama  ini telah dilakukan  oleh unit-unit   pelaksana   pelatihan   di   daerah.
  4. Menentukan   model   pengembangan pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas TKI purna.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel tenaga pelatih, materi  pelatihan,  metode  pelatihan, fasilitas  pelatihan, dan  locus  of control memiliki pengaruh yang signifikan terhadap self efficacy lulusan peserta pelatihan. Pengaruh variabel tenaga pelatih, materi pelatihan, metode pelatihan, fasilitas pelatihan, dan  locus  of  control  memiliki   pengaruh   yang  signifikan  terhadap kapasitas kerja lulusan peserta pelatihan. Serta pengaruh variabel self efficacy memiliki   pengaruh   yang  signifikan   terhadap   kapasitas   kerja   lulusan   peserta pelatihan.

C.  METODE PENELITIAN

Objek penelitian ini adalah para TKI Purna lulusan pelatihan yang telah diselenggarakan oleh unit pelaksana pelatihan di Provinsi Jatim, Jabar, Jateng, DIY dan NTB sebesar 300 TKI Purna.

Variabel  penelitian  terdiri  dari  variabel  independent  yaitu  tenaga  pelatih, materi pelatihan, metode pelatihan, fasilitas pelatihan, serta locus of control. Self efficacy adalah variabel antara (intervening), sedangkan variabel dependen adalah kapasitas  kerja  TKI  Purna.  Variabel-variabel  tersebut  merupakan  variabel  laten yang terdiri dari 25 indikator.

Analisis   data   menggunakan   alat   analisis   dalam   statistika   yang   akan digunakan adalah SEM (Structural Equation Modeling) yang dalam proses perhitungannya akan menggunakan alat bantu berupa software AMOS.

D.  HASIL PENELITIAN

Hasil studi sebagai berikut: Variabel tenaga pelatih memiliki pengaruh yang tidak signifikan  terhadap  self  efficacy,  artinya  bahwa  tenaga  pelatih  tidak  dapat meningkatkan  dan  tidak  memiliki  pengaruh  terhadap  self  efficacy  TKI  Purna. Variabel  materi  pelatihan  memiliki  pengaruh  yang  tidak  signifikan  terhadap  self efficacy, artinya  bahwa  materi  pelatihan  tidak  dapat  meningkatkan  dan  tidak memiliki  pengaruh  terhadap  self  efficacy  TKI  Purna.  Variabel  metode  pelatihan memiliki  pengaruh  yang  tidak  signifikan  terhadap  self  efficacy, artinya  bahwa metode pelatihan tidak dapat meningkatkan dan tidak memiliki pengaruh terhadap self  efficacy   TKI  Purna.  Variabel   fasilitas   pelatihan   memiliki   pengaruh   yang signifikan   terhadap   self   efficacy, artinya   bahwa   fasilitas   pelatihan   dapat meningkatkan self efficacy TKI Purna. Semakin tinggi fasilitas pelatihan ditingkatkan maka semakin tinggi tingkat efficacy TKI Purna. Variabel locus of control memiliki pengaruh  yang  signifikan  terhadap  self  efficacy, artinya  bahwa  locus  of control dapat meningkatkan self efficacy TKI Purna. Semakin tinggi locus of control ditingkatkan maka semakin tinggi tingkat self efficacy TKI Purna. Variabel tenaga pelatih memiliki pengaruh  yang tidak signifikan  terhadap kapasitas  kerja, artinya bahwa tenaga pelatih tidak dapat meningkatkan dan tidak memiliki pengaruh terhadap kapasitas kerja TKI Purna. Variabel materi pelatihan memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kapasitas kerja, artinya bahwa materi pelatihan tidak dapat meningkatkan  dan tidak  memiliki  pengaruh  terhadap  kapasitas  kerja  TKI Purna. Variabel   metode   pelatihan   memiliki   pengaruh   yang  tidak  signifikan   terhadap kapasitas  kerja, artinya  bahwa  metode  pelatihan  tidak  dapat  meningkatkan  dan tidak  memiliki  pengaruh  terhadap  kapasitas  kerja  TKI  Purna.  Variabel  fasilitas pelatihan  memiliki  pengaruh  yang  signifikan  terhadap  kapasitas  kerja, artinya bahwa fasilitas pelatihan dapat meningkatkan kapasitas kerja TKI Purna. Semakin tinggi fasilitas pelatihan  ditingkatkan  maka semakin tinggi tingkat kapasitas  kerja TKI Purna. Variabel  locus  of control  memiliki  pengaruh  yang signifikan  terhadap kapasitas kerja, artinya bahwa locus of control dapat meningkatkan kapasitas kerja TKI Purna. Semakin tinggi locus of control ditingkatkan maka semakin tinggi tingkat kapasitas kerja TKI Purna. Variabel self efficacy memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kapasitas kerja, artinya bahwa self efficacy dapat meningkatkan kapasitas kerja  TKI  Purna.  Semakin  tinggi  self  efficacy  ditingkatkan  maka  semakin  tinggi tingkat kapasitas kerja TKI Purna.

E.   PENUTUP

Secara  integrative  hasil studi ini dapat  disimpulkan  tenaga  pelatih,  materi pelatihan dan metode pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap self efficacy dan kapasitas kerja TKI Purna. Sedangkan fasilitas pelatihan dan locus of control berpengaruh signifikan terhadap self efficacy dan kapasitas kerja TKI Purna. Serta self efficacy berpengaruh signifikan terhadap kapasitas kerja TKI Purna.

Dari sisi tenaga pelatih yang harus diperhatikan adalah penguasaan materi pelatihan, sikap dan cara pelatih dalam menyampaikan materi pelatihan. Agar pelatihan  bermakna  untuk  meningkatkan  self  efficacy  dan  kapasitas  kerja  maka materi  pelatihan  harus  dirubah,  begitu  juga  manfaat  materi  pelatihan  terhadap kualitas   dan  kuantitas   hasil  kerja  dan  relevansi   materi   tugas   dengan   jenis pekerjaan. Agar metode pelatihan bermakna untuk meningkatkan self efficacy  dan kapasitas kerja TKI Purna, maka metode pelatihan harus dirubah. Begitu juga harus diperhatikan kesesuaian antara metode pelatihan yang digunakan dengan kondisi peserta dan tingkat partisipasi peserta, pada saat kegiatan diskusi dalam program pelatihan. Agar dapat meningkatkan   self  efficacy  dan  kapasitas  kerja, maka  ketersediaan peralatan pelatihan dalam mendukung kegiatan pelatihan, pengaruh ketersediaan peralatan dalam membantu peserta, kondisi gedung dan ruangan serta lingkungan sekitarnya dan kelengkapan fasilitas peralatan dan perpustakaannya yang kesemuanya bermakna dan valid, harus ditingkatkan. Agar dapat meningkatkan self efficacy dan kapasitas kerja, maka kemampuan internal dan kemampuan eksternal yang kesemuanya bermakna dan valid harus ditingkatkan. Self efficacy ditingkatkan agar kemampuan dan keyakinan menyelesaikan  tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dapat meningkat.

Lihat Berita Yang Lain