Kamis, 24 Juli 2014 12:56 WIB 0 Komentar 348 Dilihat

ACFTA Bagi Indonesia

Oleh:

Zanterman RGG, dkk
[kingucok@yahoo.com]

I. Pendahuluan

Seperti diketahui, Indonesia telah maju satu langkah lagi di dalam kancah perjanjian perdagangan bebas dengan turut menanda-tangani ACFTA, dimana  rintangan perdagangan antara ASEAN dan China seperti bea masuk dihapuskan, yang akan membantu menurunkan biaya, meningkatkan volume perdagangan dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Untuk sektor yang sudah siap (early harvest package) khususnya sektor pertanian dan perikanan sudah berjalan sejak tahun 2004. Normal Track I (NT-I) sudah berjalan sejak tahun 2005, dan mencapai bea masuk 0% pada tahun 2010. Normal Track II (NT-II) akan mencapai bea masuk 0% pada tahun 2012. Sedangkan untuk produk yang dikategorikan sensitif (sensitive list atau SL) dijadwalkan akan selesai pada tahun 2018.

Sebagaimana halnya perjanjian perdagangan bebas lainnya, ACFTA juga mendapat perhatian dari banyak kalangan. Sebagian meyakini bahwa ACFTA akan memberi manfaat bagi perekonomian Indonesia, tetapi sebagian lagi berpandangan sebaliknya, terutama bagi Industri TPT.

Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan dampak ACFTA terhadap industri TPT yang termasuk dalam kategori NT-II, dan Sensitive List (SL) Untuk mencapai tujuan tersebut, metode analisis yang digunakan adalah Dynamic Social Accounting Matrix (DySAM), yakni suatu model yang mengacu pada SAM dengan menggunakan data deret waktu (time series) yang terbaru dalam neraca nasional.

II. Hasil Penelitian

Perkiraan dampak ACFTA terhadap output dan penyerapan tenaga kerja pada Industri TPT melalui pendekatan DySAM ini dilakukan dengan tiga simulasi, yakni: bila tidak ada penurunan bea masuk, bila bea masuk turun 1%, dan bila bea masuk turun 5%.

2.1. Bila tidak ada penurunan bea masuk

2.1.1 Dampak terhadap output

Bila bea masuk tidak mengalami penurunan, maka semua kelompok industry TPT akan mengalami peningkatan output terus menerus, dimana kelompok yang mengalami pertumbuhan paling tinggi adalah kelompok Industri Pakaian Jadi.

2.1.2 Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja

Bila bea masuk tidak mengalami penurunan, maka penyerapan tenaga kerja akan cenderung meningkat terus menerus. Kelompok Benang, Kain dan Bulu Tiruan merupakan kelompok yang menyerap tenaga kerja paling banyak. Selain itu, kelompok ini juga mengalami pertumbuhan yang paling tinggi selama kurun waktu 2005-2015. Kelompok Pakaian Jadi merupakan kelompok yang menyerap tenaga kerja terbesar kedua.

2.2. Bila bea masuk turun 1%

2.2.1 Dampak terhadap output

Bila bea masuk diturunkan sebesar 1%, maka sejak tahun 2010 pertumbuhan output Industri TPT akan mengalami perlambatan sampai tahun 2015, terutama kelompok Industri Kapuk, Benang, Kain Tenun dan Batik, dan Bulu Tiruan. Satu-satunya kelompok Industri yang tetap mengalami peningkatan output adalah Pakaian Jadi.

2.2.2. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja

Bila bea masuk diturunkan sebesar 1%, maka secara umum sejak tahun 2012 sampai 2015 akan terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja di Industri TPT, kecuali kelompok Industri Pakaian Jadi yang terus mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja.

2.3. Bea masuk menurun 5%

2.3.1. Dampak terhadap output

Bila bea masuk diturunkan sebesar 5%, akan terjadi pergerakan penurunan output, kecuali kpada elompok Industri Pakaian Jadi yang masih terus meningkat.

2.3.2. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja

Bila bea masuk mengalami penurunan 5%, maka penyerapan tenaga kerja yang masih meningkat hanya pada kelompok Industri Pakaian Jadi, sementara pada kelompok Industri lainnya akan terus menurun.

III. Penutup

1. Kesimpulan

Dari hasil simulasi melalui pendekatan DySAM yang digunakan dalam penelitian ini terlihat bahwa bila tidak ada dukungan nyata, serius, dan konsisten dari pemerintah berupa kebijakan insentif untuk memitigasi dampak ACFTA, maka penurunan bea masuk (tariff) impor sebagai konsekwensi dari penerapan ACFTA akan memberikan dampak negatif baik terhadap output maupun penyerapan tenaga kerja pada Industri TPT, kecuali pada kelompok Industri Pakaian Jadi yang nampaknya tidak terpengaruh. Hasil simulasi termaksud dengan jelas menunjukkan bahwa semakin banyak penurunan bea masuk, semakin banyak pula penurunan output dan penyerapan tenaga kerja. Dengan demikian, kekhawatiran beberapa kalangan terhadap penerapan ACFTA harus diterima secara bijak agar tidak terlanjur terbawa arus terlalu jauh tanpa ada upaya perbaikan dalam aspek kebijakan. Bagaimanapun, hasil simulasi ini dapat diartikan sebagai suatu kemungkinan yang harus diperhatikan secara serius karena Industri TPT tergolong sektor yang padat karya.

Bila hasil simulasi dalam penelitian ini benar-benar menjadi kenyataan, atau setidaknya menunjukkan kecenderungan yang sama di waktu mendatang, maka Industri TPT akan menghadapi situasi yang serius. Lebih spesifik, situasi seperti ini akan sangat mendistorsi kesempatan kerja di Indonesia, karena tidak mudah untuk merelokasi pekerja dari Industri TPT ke industry atau sector lain mengingat rata-rata pendidikan dan keterampilan mereka yang rendah. Oleh karena itu jelaslah ada sesuatu yang harus disesuaikan dalam pelaksanaan ACFTA di Indonesia, sehingga penerapan ACFTA memberikan manfaat bagi pembangunan Indonesia dalam arti luas berdasarkan prinsip bahwa Negara wajib melindungi hak asasi warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

2. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka penelitian ini menyampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi seluruh pihak terkait dalam pelaksanaan ACFTA, khususnya pada Industri TPT Kelompok Industri Non Pakaian Jadi. Dengan demikian output dan penyerapan tenaga kerja dapat meningkat, atau setidaknya tidak semakin menurun (yang ditunjukkan dengan gerakan garis yang linear ke atas pada grafik) bergerak linear ke atas, atau setidaknya tidak . Saran termaksud adalah sebagai berikut:

  1. Mengoptimalkan program stimulus (Kementerian Keuangan, dan Kementerian perdagangan).
  2. Meningkatkan dan mengembangkan program bantuan permodalan, produksi, dan pemasaran bagi pengusaha Industri TPT, khususnya yang berskala kecil dan menegah, dengan tingkat bungan serendah mungkin.
  3. Menggalakkan program cinta produk dalam negeri.

Khusus bagi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, beberapa upaya yang perlu dilakukan adalah:

  1. Meningkatkan dan mengembangkan pelatihan keterampilan kerja dan produktivitas bagi pekerja dan pencari kerja melalui UPTP Pelatihan yang berada di sentra-sentra Industri TPT seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan lain-lain.
  2. Untuk itu, seluruh UPTP Pelatihan di sentra-sentra Industri TPT harus direvitalisasi agar mampu melaksanakan tugas tersebut di atas.
  3. Mempersiapkan pelatihan alih profesi bagi pekerja Industri TPT yang kemungkinan terkena PHK bila keadaan memburuk.
  4. Meningkatkan kinerja Satgas Penanggulangan Dampak ACFTA yang ada di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk memantau dan menganalisis secara teratur dan berkala kondisi Industri TPT.
  5. Meningkatkan dukungan atau fasilitasi kepada UPTD Pelatihan di sentra-sentra Industri TPT.
  6. Mengembangkan kegiatan-kegiatan “labour creation” melalui pengembangan perluasan kerja layak di sentra-sentra Industri TPT.

Lihat Berita Yang Lain