Selasa, 31 Mei 2016 17:04 WIB 0 Komentar 196 Dilihat
Kembangkan Skill, TKI Dilatih Bertani Organik

Kembangkan Skill, TKI Dilatih Bertani Organik

Taipei – Satu lagi kegiatan isnpiratif yang digagas oleh Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) di Taipei bagi para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan adalah pelatihan bercocok tanam secara organik. Tak hanya dipandu cara pembibitan tanaman, para TKI juga terjun langsung bercocok-tanam di Beitou, Taipei, Minggu (29/5/2016).

Sedikitnya 30 TKI mengikuti pelatihan yang berlangsung di kebun Mr. Chan. Mereka mendapat pelatihan  langsung dari salah satu petani anggota Asosiasi Petani Organik Taipei tersebut. Para pesertapun mengakui, meskipun secara umum mereka sudah mengetahui seluk beluk pertanian, namun mereka masih awam dalam pertanian secara organik.

Mengkonsumsi makanan hasil olahan pertanian organik telah menjadi kebiasaan tersendiri bagi masyarakat Negeri Formosa. Mereka lebih memilih peertanian secara organik, karena lebih aman bagi kesehatan jika dibandingkan dengan pertanian yang diolah dengan pupuk kimiawi.

Salah satu pesert apelatihan, Rubiyati, menuturkan, dengan belaja rbertani secaraorganik, dirinya bisa mengambil banyak manfaat. Selain memperoleh ilmu pertanian, dirinyajugabisabelajar bertani dengan lahan yang sempit.

“Di kampung, saya selama ini bercocok-tanam pertanian secara umum, bukan teknik organik seperti yang kita pelajari hari ini,” ujar wanita berjilbab asal Pati, Jawa Tengah ini.

Pelatihan pertanian organik dinilai cocok dengan kultur pertanian Indonesia. Peserta lainnya, Sarmi, mengatakan, ilmu pertanian organik bisa diaplikasikan sepulangnya ke Indonesia.

“Saya pernah bercocok-tanam bawang merah. Mudah-mudahan pelajaran bertani organik in ibisa sayaterapkan di Indonesia,” tutur TKI asal Demak, Jawa Tengah tersebut.

Mr. Chan menjelaskan, pertanian secara organik terdiri dari beberapa tahapan. Dimulai dari tahap pemilihan bibit,  penyemaian, menanam bibit, perawatan, hingga masa panen.

“Secara umum, bertani organik, masa panen akan lebih lama daricocok-tanam pada umumnya. Tapi, kelebihannya, hasil panen lebih sehat dan berkualitas,” terangnyadidampingi sang istri.

Salah satusesi paling menarikdalam pelatihan ini adalah TKI diajak berkeliling ke areal perkebunan jagung dan timun. Mengingat pertanian organik sama sekali tidak menggunakan pupuk pestisida, para peserta dapat langsung memetik sayuran organik tersebut dan mengkonsumsinya di tempat.

“Rasanya lebih enak,” cetus Nurkholiq, TKI asal Kendal, mencoba membandingkan kualitas sayurorganik yang dicicipinya.

Kepala Bidang Ketenagakerjaan KDEI di Taipei Devriel Sogia Raflis yang didampingi Senior Asisten Ketenagakerjaan Noerman Adhiguna mengajak TKI untuk sebijaksana mungkin dalam memanfaatkan waktu selama bekerja sebagai TKI. Kedatangan mereka menjadi TKI di Taiwan diharapakan bisa member pengalaman yang dapat dikembangkannya kelak sepulang ke Indonesia.

“Dengan mengikuti pelatihan ini, sepulangnya ke Indonesia, saudara-saudara bisa menerapkan ilmunya di kampong halaman masing-masing,” imbaunya.

Dijelaskan, pelatihan pertanian organik menjadi bagian dari exit program KDEI di Taipei. Pihaknya secara intensif menggelar kegiatan pemberdayaan dan pembekalan bagi TKI demi terciptanya TKI purna yang mandiri sekembalinya ke Tanah Air.

Lihat Berita Yang Lain

Penempatan dan Perlindungan TKI Harus Menjadi Bagian Dari Isu Ketenagakerjaan Secara Keseluruhan

22 Maret 2017 0

Saat ini, sistem pasar kerja di berbagai negara terus berkembang sangat dinamis. Oleh karenanya, persoalan penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri harus [...]

Tingkatkan Kualitas Lembaga Pelatihan Kerja, Kemnaker Gandeng Politeknik Singapura

02 Maret 2017 0

Jakarta-- Dalam rangka meningkatkan kualitas Balai Latihan Kerja (BLK) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) milik pemerintah dan swasta, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalin kerjasama teknik [...]

Izin Perusahaan Yang Memberangkatkan Rabitah Telah Dicabut

01 Maret 2017 0

JAKARTA- Izin operasi PT Falah Rima Hudaity Bersaudara, sebagai perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS), atau yang sebelumnya dikenal sebagai Perusahaan Jasa Tenaga [...]