Senin, 09 Januari 2017 11:16 WIB 0 Komentar 130 Dilihat
Sugiarto Sumas: Pesantren Harus Mampu Ciptakan Skill Worker Andalan

Sugiarto Sumas: Pesantren Harus Mampu Ciptakan Skill Worker Andalan

Dunia pesantren sudah dikenal luas oleh masyarakat bisa mencetak anak didiknya tak hanya pandai ilmu agama tetapi juga berdisiplin tinggi. Pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan yang telah mengakar serta menjadi bagian sosiokultural masyarakat Indonesia hanya perlu menambah satu pola pendidikan baru yang berbasiskan skil dan kompetensi yang kongkrit. 


"Kalau kita bangun Pondok Pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama Islam, tetapi juga sebagai lembaga pelatihan kewirausahaan, sehingga tingkat kemandirian alumni Pondok Pesantren lebih tinggi dari Lembaga Pendidikan Umum ini akan menajdi kekuatan dahsyat dan andalan di masa depan," terang Kabarenbang Kemnaker RI.


Hal itu disampaikan Kepala Barenbang Kemnaker RI, Sugiarto Sumas dalam sambutannya yang mewakili Menaker Hanif Dhakiri di acara Haul Milad Pesantren Miftahul Ulum Ciamis, sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan pertemuan Alim Ulama se Ciamis, di Ciamis Jabar, Minggu malam, (8/1/2017).


Menurut doktor lulusan IPB Bogor ini, kini Pondok Pesantren sudah menemukan jatidirinya. Sudah banyak prestasi yang dicapai dan terbukti sudah dapat bersaing dengan Lembaga Pendidikan lain pada umumnya. faktanya, kini alumni Pondok Pesantren banyak yang sukses di segala bidang. Mulai dari menjadi Petani hingga menjadi Menteri. 


"Mulai dari menjadi Ustadz hingga menjadi Konglemerat. Mulai dari menjadi guru SD hingga menjadi anggota DPR RI. Mulai skala lokal hingga internasional. Mulai dari menjadi Kades hingga menjadi Dubes dan mulai dari menjadi Kaur Desa hingga jadi Gubernur, serta masih banyak lagi gambaran lainnya," terang dia yang disambut tepuk tengan meriah para santri dan para kiai yang hadir.  


Semua ini, lanjut dia, tidak terlepas dari banyaknya pondok pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan jumlah santri yang cukup besar yang terus memperbaiki diri dalam sistem pendididkan dan kurikulum pembelajarannya. Data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemeterian Agama, pada tahun 2011 Indonesia memiliki 27.218 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai 3.642.738 orang.


"Modal dasar di atas harus kita kembangkan. Salah satu jalan yang sangat mungkin dilakukan adalah dengan memberikan pendidikan pesantren berbasis vokasi. Lulusannya harus berpengetahuan, berkeahlian, dan berakhlakul karimah. Dengan demikian, dari pondok pesantren akan lahir santri-santri enterpreneur dan santri-santri yang memiliki skill yang tinggi, yang tidak hanya handal tetapi juga berakhlak mulia," harap dia.
 

Dengan terjadinya penguatan SDM dari latar belakang pesantren inilah, diharapkan nantinya mereka dapat menggerakkan usaha ekonomi produktif di lingkungan pondok pesantren maupun di lingkungan sekitarnya pasca selesai mondok. Sehingga dalam jangka panjang akan menciptakan kemandirian ekonomi lokal, yang kemudian akan mewujudkan kesejahteraan bangsa, serta pada akhirnya akan mewujudkan keutuhan bangsa dan NKRI. 


"Kalau santri kuat ekonominya, dan mayoritas anak muda kita masuk dunia pesantren nantinya, maka paham radikal, ekstrem kanan dan kiri tak akan mudah di terima anak muda. Inilah yang disebut dengan mewujudkan keutuhan bangsa dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity), bukan pendekatan keamanan (security)," pungkas dia.

Lihat Berita Yang Lain

Butuh Sinergi Banyak Pihak Untuk Maksimalkan Program Pemagangan

26 April 2017 0

Dalam ranga meningkatkan keterampilan dan daya saing tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI terus mengenjot sejumlah program unggulan terutama pemangan dan pelatihan kerja di Balai [...]

Menaker Ajak Serikat Pekerja Kuatkan Dialog Sosial dan Tingkatkan Kompetensi

23 April 2017 0

Sumedang---Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dakhiri mengajak serikat pekerja/serikat buruh terus menguatkan dialog sosial di perusahaan, utamanya dalam menghadapi tantangan pekerja dalam hubungan [...]

Mediator Hubungan Industrial Harus Proaktif Tangani Unjuk Rasa

21 April 2017 1

Yogyakarta - Mediator Hubungan Industrial (HI) harus lebih proaktif dalam menangani unjuk rasa tanpa harus menunggu pencatatan ke Dinas Tenaga Kerja setempat maupun surat tugas dari pimpinan. Sikap [...]