Kamis, 31 Maret 2016 15:58 WIB 0 Komentar 282 Dilihat
Menaker Sambut Hangat Masukan APTI Soal Perlindungan Petani Tembakau

Menaker Sambut Hangat Masukan APTI Soal Perlindungan Petani Tembakau

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Muhammad Hanif Dhakiri menyambut hangat masukan dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) terkait upaya perlindungan terhadap tenaga kerja yang bergelut di bidang pertembakauan nasional. Hal ini disampaikan menaker saat menerima APTI di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2016).

 

Dalam kesempatan tersebut APTI menyampaikan hasil tembakau merupakan bagian penting dari pembangunan nasional yang harus dilindungi dari sisi ketenagakerjaan. Tembakau dan Industri Hasil Tembakau (IHT) memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja dari hulu sampai ke hilir.

 

Jumalah tenaga kerja di bidang ini mencapai angka jutaan. Oleh karenanya APTI memandang perlu adanya regulasi yang melindungi petani tembakau dan tenaga kerja lain yang berkaitan dengan bidang tersebut. Menanggapi hal ini, Menaker menyatakan dukungannya terhadap APTI dalam upaya perlindungan terhadap petani tembakau.

 

Dala kesempatan tersebut, APTI juga menyampaikan data tenaga kerja di sektor tembakau, dimana pada tahun 2015 luas produksi mencapai angka 238.722. Sedangkan jumlah petani tembakau berada di kisaran angka 2,3 juta orang, petani cengkeh 1,6 juta orang dan buruh pabrik sebanyak 150 ribu.

Tak hanya itu, jumlah karyawan industri juga tak kalah banyaknya yakni 60 ribu orang. Sedangkan pengecer atau retailer sebesar 2,29 juta orang. Hal ini menggambarkan seberapa besar penyerapan tenaga kerja di ranah pertembakauan nasional. Sedangkan terkait penerimaan negara dari IHT juga tidak bisa di sepelehkan. IHT memberi sumbangsih bersar terhadap pendapat negara. Ditahun 2015 IHT menyumbang pendapatan negara sebesar 162,2 Trilyun.

 

Dengan sekian banyak sumbangsih yang di berikan, APTI berharap pemerintah Indonesia memilki keberpihakan terhadap pera petani, buruh dan industri tembakau dalam negeri ketimbang produk-produk tembakau impor. APTI juga meminta komitmen Pemerintah Republik Indonesia agar cukai rokok yang berbahan baku impor dikenakan tarif lebih tinggi dibandingkan yang memakai bahan baku dari dalam negeri.

 

Hal tersebut diyakini APTI sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap petani tembakau nasional. Seperti dipahami bersama, produksi tembakau nasional masih bertumpu pada penyerapan industri nasional yang berupa produk kretek. Tak hanya itu, APTI juga berharap adanya kebijakan pembatasan impor tembakau dengan mengutamakan penyerapan tembakau nasional.

 

Untuk diketahui, Menaker memberikan perhatian yang serius terhadap persoalan tembakau nasional. Dari kunjungan ke darah penghasil kretek sampai gagasan besar sertifikasi terster tembakau dalam rangka mempercepat penyerapan tenaga kerja nasional dan membuka lapangan kerja baru bagi seluruh rakyat Indonesia terutama yang terkait dengan dunia tembakau nasional.

Lihat Berita Yang Lain

Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja Harus Membangun Sistem Akreditasi Berbasis Mutu

20 Februari 2018 0

Jakarta -- Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Bambang Satrio Lelono, meminta Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (LA-LPK) dan [...]

Tingkatkan Kinerja dan Capaian di Tahun 2018, Kemnaker Terus Konsolidasikan Unit Teknis

08 Februari 2018 0

Mengarungi tahun 2018, Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) konsolidasikan unit teknis kementerian agar kerja antar lini dapat berjalan solid dan sinergis. Sehingga, capain kinerja Kemnaker [...]

Kemnaker-Tahir Foundation Kerja Sama Tingkatkan Kompetensi Calon Pekerja Migran Indonesia

08 Februari 2018 0

Jakarta-- Kementerian Ketenagakerjaan menjalin kerjasama dengan Tahir Foundation tentang ilot project peningkatan kompetensi bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI).