Selasa, 06 November 2018 19:27 WIB 0 Komentar 186 Dilihat
Menaker : Praktisi SDM Perlu  Antisipasi Tiga Transformasi Ketenagakerjaan

Menaker : Praktisi SDM Perlu Antisipasi Tiga Transformasi Ketenagakerjaan

Jakarta--- Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri mengingatkan  praktisi manajemen sumberdaya manusia (MSDM) agar memberi perhatian khusus terhadap masalah transformasi industri, transformasi pekerjaan dan transformasi skill. 

Ketiga transformasi di bidang ketenagakerjaan tersebut diyakini akan mempengaruhi seluruh pola hubungan di dalam bisnis/perusahaan di Indonesia.

Ini merupakan tantangan yang kita harus lalui dan selesaikan. Saya meyakini praktisi HR (human resources) termasuk orang-orang penting, harus terlibat dalam transformasi  " ujar  Menaker saat menjadi keynote speaker acara Conference Chief of Human Resources Officer (CHRO) yang digelar Perhimpunan Sumberdaya Manusia Indonesia (PMSM Indonesia) di Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Hanif mengatakan di era digitalisasi atau otomatisasi sekarang ini pola-pola hubungan kerja akan berubah, kepemilikan (perusahaan) akan berubah, dan cara pengembangan karir juga akan berbeda dengan masa lal

Hanif mencontohkan industri baru berbasis e-commerce seperti gojek, grab dan lainnya, hubungan kerjanya sulit untuk diverifikasi. ILO bahkan menyebutnya sebagai the new form of employment.

 "Jadi mereka menyebut sebagai partner, mitra, tapi juga rasa-rasa pekerja. Mitra rasa pekerja. Pekerja rasa mitra, jadi ga jelas dan perlu pembahasan lebih lanjut " kata Hanif. 

Hanif mengatakan sangat banyak hal mengalami perubahan sebagai dampak perkembangan teknologi informasi massif dan cepat, yang akan merubah semua hal tersebut. 

"Ini PR para praktisi MSDM untuk memastikan agar orang seperti saya punya masa depan. Kalau tak memiliki gagasan atau terobosan untuk mengelola dunia baru yang penuh perubahan ini, terus kita-kita ini bagaimana? Jangan sampai perubahan dunia ini membuat saya tak punya karir, " katanya.

Di Indonesia, kata Hanif, tantangan praktisi MSDM cukup besar yakni tak adanya karir terhadap 33juta pekerja Indonesia. Yang mengkhawatirkan adalah 33 juta pekerja Indonesia terjebak dalam posisi sama di level terbawah di sebuah industri. 

"Ini juga harus diberi perhatian. Ketika tak memiliki karir, maka masa depan generasi berikutnya akan bermasalah,  Jika tantangan ini tidak bisa dihadapi, maka di tahun 2020-2030, saat Indonesia mengalami bonus demografi, maka kita akan menghadapi bencana besar, " ujarnya.

Hanif menambahkan pemerintah telah membuat tripple skilling (skilling, re-sklinng dan upskilling) untuk memastikan agar warganegara memiliki ketrampilan dan atau kompetensi  sekaligus memiliki kemampuan mengupdate maupun merubahnya dalam waktu tak terlalu lama. 

“Kita harus beri akses dan kesempatan masyarakat untuk merubah skillnya dengan cepat pula. Akses dan mutu people skilling saat ini sedang kita genjot di Kemnaker dan tempat-tempat latihan yang dimiliki pemerintah, “ katanya.

Hanif menambahkan meski menghadapi banyak tantangan, praktisi MSDM juga diminta bersikap optimistis dan  berpikir positif. Karenanya mari kita terus sambut perubahan ini dengan semangat positif dan penuh optimisme. 

“Revolusi industri memiliki dampak luar biasa. Tetapi percayalah, pada akhirnya manusia akan mampu bertahan memghadapi perubahan yang cepat tersebut, “ ujar Hanif.

Biro Humas Kemnaker

Lihat Berita Yang Lain

Menaker Ingin Pesantren Mampu Membekali Keterampilan Kepada Alumninya

14 Mei 2017 0

Pondok pesantren dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang sudah cukup lama menjadi bagian sejarah Indonesia. Lembaga pendidikan yang umumnya berbasis keagamaan ini diharapkan terus eksis [...]

Menaker Ingatkan Pentingnya Kompetensi Kepada Civitas Akademika

28 Maret 2017 0

Pemahaman tentang pentingnya kompetensi kepada generasi muda seperti mahasiswa di kampus sangat diperlukan. Mengingat nasib masa depan bangsa ada di pundak mereka.

Kemnaker Terus Perkuat Mutu dan Akses Pelatihan Kerja

10 Januari 2017 0

Saat ini, kualitas angkatan kerja Indonesia dihadapkan pada realita yang kurang menggembirakan. Pada bulan Agustus 2016, Penduduk Usia Kerja di Indonesia sebanyak 189.096.722 orang, yang terdiri atas [...]