Rabu, 08 November 2017 19:12 WIB 0 Komentar 688 Dilihat
Menaker: Difabel Harus Mendapatkan Akses Kerja

Menaker: Difabel Harus Mendapatkan Akses Kerja

DUDUK di bangku bambu, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri berbincang santai dengan Suwarji dan Supono Duta, dua penyandang difabel (tuna daksa). Obrolan santai sambil menikmati hidangan angkringan itu berlangsung di Rumah Bloger Indonesia (RBI), kawasan Jajar, Solo, Jawa Tengah, Selasa malam, 7 November 2017. RBI adalah tempat ngumpul para blogger dan difebel. Pada malam hari, mereka membuka kedai angkringan dan musik akustik.

Malam itu, dengan mengenakan sarung biru dipadu kemeja putih dan bersandal jepit, Menteri Hanif sengaja mampir ke RBI untuk berbincang dengan para difabel. Khususnya terkait akses pelatihan ketrampilan bagi pada difabel, serta perluasan kesempatan kerja bagi mereka. Dengan mendapatkan masukan langsung dari para difabel, kebijakan penyediaan akses pelatihan ketrampilan dan kesempatan kerja, sesuai dengan yang dibutuhkan.


“Kami punya potensi. Kami juga bekerja. Kami berharap pemerintah memberikan akses pelatihan ketrampilan kerja, ” kata Suwarji yang setiap hari bekerja di sebuah tailor jas.


Kepada Menaker, ia juga berharap, selain pelatihan skill, pemerintah juga diharapkan memberikan akses permodalan dan bantuan alat kerja. Alasannya, dengan keterbatasan fisiknya, banyak penyandang cacat yang  lebih nyaman bekerja secara mandiri.


Tentang jenis pelatihan apa yang paling dibutuhkan para difabel di Solo? Suwarji menyebut pelatihan menjahit, IT atau programmer.  Atas masukan tersebut, Menaker menyatakan akan menjadikannya sebagai masukan penting dalam pengembangan Balai Latihan Kerja (BLK). “Karena teman-teman difabel juga berhak mendapatkan akses untuk meningkatkan ketrampilan serta mendapatkan pekerjaan yang baik,” kata Menaker.


Di tengah perbincangan, hadir Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara bergabung menikmati angkringan dan musik akustik.


Lain halnya masukan dari Aprilian Bima, mahasiswa Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Solo yang juga penderita tuna rungu. Dia dan beberapa rekannya ingin mendapatkan pelatihan ketrampilan membuka kafe.  Atas keinginan tersebut, Menaker menawarkan pelatihan barista kepada para penyandang tuna rungu. “Kemnaker punya program pelatihan barista, dan pelatihan ketrampilan lain untuk memperluas kesempatan kerja,” jelas Menaker. 


Melalui bantuan penterjemah bahasa isyarat, Bima mengaku girang dengan tawaran tersebut. “Iya kami mau mengikuti pelatihan menjadi barista,” kata Bima dengan bahasa isyarat.


Keinginan tersebut sejalan dengan rencana Bima yang juga sebagai Ketua Gerakan Kesejahteraan untuk Tuna Rung Indonesia (Gerkatin) Solo yang sedang getol mensosialisasikan Bahasa Isyarat Indonesia (Basindo) kepada masyarakat sebagai bahasa komunikasi. Di kafe itu, mereka akan mensosialisasikan Basindo. 


Di pengujung perbincangan, Menteri Hanif menyempatkan belajar bahasa isyarat kepada Bima, lalu foto bersama.

Lihat Berita Yang Lain

Kemnaker Tinjau Pelayanan Pekerja Migran di LTSA Provinsi NTT

13 Juli 2018 0

Kupang -- Staf Ahli Bidang Hubungan Antarlembaga Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Irianto Simbolon dan Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Soes [...]

Cegah Kanker Serviks Sejak Dini, Ribuan Pekerja Perempuan di Cikarang akan di Tes IVA

11 Juli 2018 0

Sebanyak 1.300 tenaga kerja perempuan di Cikarang, Bekasi  akan mengikuti tes Inspeksi Visual Asetat (IVA). Tes yang digelar oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI, Organisasi Aksi Solidaritas Era [...]

Sebanyak 583 Pekerja Migran Indonesia di Singapura Berhasil Diwisuda

09 Juli 2018 1

Singapura -- Sebanyak 583 Pekerja Migran Indonesia (PMI) berhasil lulus dan diwisuda setelah mengikuti kursus pelatihan keterampilan kerja yang diadakan Pusat pendidikan dan Pelatihan Kerja (P3K) [...]