Senin, 12 Februari 2018 17:43 WIB 0 Komentar 4252 Dilihat
Mahasiswa Harus Bersiap Hadapi Era Revolusi Industri 4.0

Mahasiswa Harus Bersiap Hadapi Era Revolusi Industri 4.0

Bandung –Mahasiswa yang tengah menuntut ilmu harus bersiap menghadapi  tantangan besar yang terjadi  era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi saat ini.  Perubahan pola baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru dan hilangnya beberapa jabatan lama.

Tantangan itu  harus dihadapi sesuai  pola kerja baru  yang tercipta dalam  revolusi 4.0. Satu faktor yang penting adalah ketrampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan,” kata Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Dirjen Binapenta & PKK)  Maruli Hasoloan mewakili Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri saat membuka IKA Unpad Job Expo pada Senin (12/2).

Dirjen Maruli mengatakan revolusi industri 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri. Perubahan pun terjadi dalam dunia industri dewasa ini yang ditandai  berubahnya iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif karena perkembangan teknologi informasi.

Oleh karena itu. katanya, lembaga pendidikan dan pelatihan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja.  "Lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif," jelas Maruli.

"Dunia industri juga harus dapat mengembangkan strategi transformasi dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten" papar Maruli.

Di sisi lain, Direktur Pendidikan Universitas Padjajaran Wawan Hermawan menegaskan, menjadi generasi yang hidup di era industri 4.0 harus mamiliki daya saing yang tinggi.

"Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar dana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)," jelas Wawan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat Ferry Sofyan Arif mengatakan, sebanyak 30% dari 22 juta angkatan kerja di Jawa Barat adalah lulusan SMA/SMK.

"Kegiatan jobfair semacam ini adalah kegiatan yang sangat bagus untuk penyerapan angkatan kerja. Selain itu, kedepannya kita juga akan mengarahkan angkatan kerja untuk menjadi wirausaha," kata Sofyan.

 

Biro Humas Kemnaker

Lihat Berita Yang Lain

Hingga Tahap ke-8 Vokasi Industri, Diikuti 2074 SMK dan 745 Perusahaan

07 Februari 2019 0

Kementerian Perindustrian telah meluncurkan hingga delapan tahap untuk program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Sejak digulirkan pada [...]

Profesi Data Scientist Makin Diminati di Era Revolusi Industri 4.0

29 Januari 2019 0

Salah satu profesi di dunia teknologi informasi yang saat ini makin diminati adalah Data Scientist (Analis Data). Tugas penting dari profesi Data Scientist antara lain mengumpulkan, mengolah, dan [...]

Menaker Minta Perusahaan Serius Terapkan Manajemen K3

15 Januari 2019 2

Jakarta--Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri meminta seluruh perusahaan dalam kegiatan usahanya mampu menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) secara baik dan bukan [...]