Rabu, 09 November 2016 15:55 WIB 0 Komentar 147 Dilihat
Penguatan Sikap Kepemimpinan dan Inovasi di Bidang Ketenagakerjaan

Penguatan Sikap Kepemimpinan dan Inovasi di Bidang Ketenagakerjaan

Jakarta – Kreatifitas dan inovasi suatu bangsa sangat dibutuhkan untuk mewujudkan bangsa yang maju dan berdaya saing. Hal ini tercermin dengan kenyataan bahwa negara-negara maju selalu memperkuat karakter kepemimpinan dan kebangsaannya, serta terus melakukan inovasi-inovasi baru.

Dengan adanya kenyataan tersebut, Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) M. Hanif Dhakiri menekankan pentingnya karakter kuat dan keunggulan berinovasi bagi masyarakat Indonesia. Dua hal tersebut menurut Menaker akan mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di tengah dinamika ekonomi dunia yang kompetitif.

"Kita semua tahu bahwa dunia dewasa ini telah mengalami perubahan yang drastis. Salah satunya perubahan di bidang ekonomi. Dari ekonomi yang bebasis produksi menjadi ekonomi berbasis pengetahuan," kata Menaker dalam acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Peningkatan Kepemimpinan dan Inovasi di Bidang Ketenagakerjaan anatara Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) dengab Yayasan Upaya Damai Indonesia dan Tsinghua University di Gedung Tridharma Kemnaker, Jakarta pada hari Rabu (9/11/2016).

Menurutnya, basis produksi dunia usaha dan industri saat ini tidak bisa hanya mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) saja. Namun saat ini yang dibutuhkan oleh semua bangsa untuk maju adalah ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan atau kompetitif.

"Basis produksi tidak hanya bisa mngandalkan orang, mesin, dan tanah. Tenaga kerja dalam arti punya tenga saja. Tidak bisa. Tapi adalah tenaga kerja yang berbasis pengetahuan," jelas Menaker.

SDM yang memiliki pengetahuan sudah barang tentu memiliki kompetensi dan kemampuan untuk berinovasi. Hal inilah yang menurut Menaker perlu didorong pertumbuhannya.

"Jadi yang lebih penting adalah tenaga kerja yang berbasis pengetahuan. Memiliki pengetahuan yang kuat, memiliki skill yang kuat, inovasi yang kuat," terang Menteri Hanif.

Ia pun menambahkan, kebutuhan Indonesia akan SDM yang berbasis pengetahuan itu masihlah sangat tinggi. Oleh karenanya, pemerintah akan selalu menjalin kerja sama dengan seluruh stakeholder ketenagakerjaan. Baik lintas kementerian/lembaga, pengusaha, dan serikat pekerja/serikat buruh (SP/SB).

Kerja sama dengan berbagai pihak tersebut akan selalu diarahkan untuk mewujudkan SDM Indonesia yang berkarakter, kompetitif, dan inovatif.

"Kebutuhan SDM kompetitif di republik ini di butihkan di semua sektor, dibutuhkan di semua level. Di pemerintahan, pengusaha, dan serikat pekerja. Itulah mengapa kita juga harus berani membuka hati kita. Membuka aspek-aspek yang lebih baik di negara lain, sebagai pembelajaran," terangnya.

Hadir dalam acara penandatanganan MoU tersebut Sekjen Kemnaker Abdul Wahab Bangkona, Irjen Kemnaker Sunarno, Plt. Dirjen Binwasnaker Maruli A. Hasoloan, Dirjen PHI dan Jamsostek Kemnaker Haiyani Rumondang, Presiden Tsinghua University Qui Yong, Ketua Apindo Hariadi Sukamdani, dan salah satu pendiri Yayasan Uapaya Indonesia Damai Aristides Katoppo.

Biro Humas Kemnaker

Lihat Berita Yang Lain

SKKNI Terus Ditinjau Agar Sesuai Dengan Kebutuhan Industri

16 Februari 2017 0

Perlu masyarakat pahami, SKKNI digunakan sebagai acuan dalam pembinaan, persiapan SDM yang berkualitas, kompeten yang diakui oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dan berlaku secara [...]

Pentingnya Peran Swasta Dalam Upaya Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja

03 Februari 2017 0

Hal ini dikarenakan untuk mencapai target tahun 2030 , kebutuhan tenaga kerja terampil berkisar 113 juta. Sedangkan pada tahun 2016 Indonesia baru memiliki sekitar 57 juta tenaga kerja terampil [...]

Indonesia-New Zealand Jajaki Kerjasama Bidang Ketenagakerjaan

31 Januari 2017 0

Pada pertemuan tersebut, berbagai kerja sama untuk mendorong peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia sangat penting. Mengingat 60 persen dari 125,44 juta angkatan kerja Indonesia adalah [...]