Senin, 05 Maret 2018 17:01 WIB 0 Komentar 1542 Dilihat
Kemnaker Gandeng BWI ILO Tingkatkan Kualitas Pengawasan Ketenagakerjaan

Kemnaker Gandeng BWI ILO Tingkatkan Kualitas Pengawasan Ketenagakerjaan

Jakarta – Pelanggaran norma ketenagakerjaan sangat mungkin terjadi di tempat kerja. Oleh karenanya, kerjasama dengan berbagai elemen sangat diperlukan untuk meningkatkan pengawasan ketenagakerjaan.

 

Hal ini diungkapkan Dirjen Binwasnaker dan K3 Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) usai melakukan penandatanganan Protokol Penanganan Kasus yang Tidak Dapat Ditoleransi (Zero Tolerance Protocol) antara Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Kemnaker dengan Program Better Work Indonesia – ILO di Kantor Kemnaker, Jakarta pada hari Senin (5/3/2018).

 

Menurut Dirjen Binwasnaker dan K3, kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan ILO ini sudah berlangsung cukup lama. Oleh karenannya, Zero Tolerance Protocol (ZTP) tersebut dinilainya akan membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pengawasan di lingkungan kerja.

 

“Misi dari kerja sama ini adalah untuk meningkatkan kualitas pengawasan ketenagakerjaan kita, terutama pelanggaran-pelanggaran yang mungkin terjadi di tempat kerja,” ujar Dirjen Sugeng.

 

Dalam kesempatan yang sama, Sesditjen Binwasnaker dan K3 Budi Hartawan menjelaskan bahwa secara teknis, kerja sama ini dapat digambarkan bahwa ketika Enterprise Advisors BWI dalam melakukan penilaian (assesment) atau pendampingan (advisory) di lingkungan kerja memungkinkan menemukan kasus pelanggaran norma ketenagakerjaan.

 

Dengan adanya ZTP, maka kasus yang ditemukan di lingkungan kerja dapat dikoordinasikan secara cepat dengan pemerintah, dalam hal ini Pengawas Ketenagakerjaan Pusat maupun provinsi untuk menindaklanjuti kasus tersebut.

 

“Dengan adanya ZTP diharapkan jika ditemukan kasus hak dasar di perusahaan dapat segera ditangani,” urai Budi Hartawan.

 

ZTP ditandatangani oleh Dirjen Binwasnaker dan K3 Kemnaker Sugeng Priyanto dan Direktur ILO Jakarta-Timor Leste Michiko Miyamoto. Secara umum, protokol ini menyebutkan 5 jenis kasus pelanggaran hak-hak pekerja yang tidak ditoleransi. Yaitu pekerja anak, kerja paksa, diskriminasi di tempat kerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), dan kebebasan berserikat.

 

“Tentu saja manakala kondisi kerja baik, melalui kita berharap produktivitas kerja juga akan meningkat. Sehingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan kesejahteraan para pekerja, dan dari perspektif nasional kita akan bisa meningkatkan kesejahteraan nasional,” kata Dirjen Binwasnaker dan K3 menutup pertemuan.

 

Biro Humas Kemnaker

Lihat Berita Yang Lain

Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2018

17 Juli 2018 0

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menggelar Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan (Rakornaswas) Intern Pemerintah Tahun 2018 di Auditorium Gandhi Gedung BPKP, Jakarta pada tanggal 17 [...]

Pengangguran Tertinggi di Palestina, Indonesia Desak ILO Galang Dukungan  

07 Juni 2018 0

Indonesia mendesak Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) untuk secara serius menggalang dukungan mitra pembangunan guna mengatasi masalah pengangguran di [...]

Indonesia dan Singapura Sepakati Kerjasama Antisipasi Dampak Revolusi Digital

07 Juni 2018 0

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Hanif menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Singapura yang selama ini telah bekerjasama dengan Indonesia dalam hal ketenagakerjaan melalui Temasek [...]